Kalau kolesterol sedang tinggi, kamu mungkin sering mendengar saran untuk memakai minyak zaitun. Apa minyak zaitun itu? Minyak zaitun adalah minyak dari buah zaitun (Olea europaea), tanaman yang banyak tumbuh di kawasan Mediterania.
Minyak ini dikenal karena kandungan lemak tak jenuh tunggalnya. Jenis lemak ini berbeda dari lemak jenuh, karena strukturnya lebih ramah untuk pola makan sehat bila dipakai secukupnya.
Tanaman zaitun banyak ditemukan di Timur Tengah, Italia, Spanyol, Yunani, dan negara lain di sekitarnya. Khasiatnya sudah dikenal sejak lama, terutama dalam pola makan Mediterania.
Misalnya, bapak ilmu kedokteran, Hippocrates, pernah menyebut zaitun punya nilai terapi. Pandangan ini juga sering dikaitkan dengan penjelasan ahli gizi tentang kandungan minyak zaitun.
Minyak zaitun banyak dipakai karena kaya asam lemak tak jenuh, terutama asam oleat atau omega-9. Dalam ulasan ilmiah, extra virgin olive oil juga mengandung polifenol yang berperan sebagai antioksidan.
Polifenol adalah senyawa alami pada tumbuhan yang membantu melindungi sel dari stres oksidatif. Nah, ini salah satu alasan minyak zaitun sering dibahas dalam topik kesehatan jantung.
Minyak zaitun di pasaran biasanya ada 3 jenis. Ada minyak zaitun extra virgin, minyak zaitun murni, dan minyak zaitun sulingan. Mari kita simak perbedaannya satu per satu.
Minyak Zaitun Extra Virgin
Minyak zaitun extra virgin adalah jenis yang paling murni. Minyak ini berasal dari ekstraksi pertama buah zaitun, sehingga warna, aroma, dan rasanya lebih kuat.
Jenis ini lebih cocok diminum sedikit, dijadikan campuran salad, atau dituang di atas sayuran matang. Kalau kamu ingin mengenal manfaatnya lebih luas, Deherba juga membahas manfaat minyak zaitun untuk kesehatan.
Penelitian pada minyak zaitun tinggi polifenol menunjukkan potensi perbaikan beberapa penanda risiko jantung. Namun, manfaat ini tetap perlu dilihat sebagai bagian dari pola makan sehat, bukan solusi tunggal.
Minyak Zaitun Murni
Minyak zaitun murni biasanya berwarna hijau kekuningan. Jenis ini berasal dari proses lanjutan minyak zaitun extra virgin.
Minyak zaitun murni bisa digunakan sebagai campuran masakan dan untuk menumis ringan. Jadi, kamu tidak harus memakainya hanya dalam keadaan mentah, kan.
Yang penting, jangan memanaskannya terlalu lama atau berulang. Pemanasan panjang bisa menurunkan kualitas minyak, apalagi kalau dipakai untuk menggoreng banyak kali.
Minyak Zaitun Sulingan

Minyak zaitun sulingan adalah minyak yang mengalami proses penyulingan lanjutan. Warnanya kekuningan dan biasanya lebih netral dari segi aroma maupun rasa.
Jenis ini sering dipilih untuk memasak karena rasanya tidak terlalu tajam. Harganya juga biasanya lebih murah, lho, dibandingkan minyak zaitun extra virgin dan minyak zaitun murni.
Minyak zaitun memang bisa menjadi pilihan lemak yang lebih sehat. Tapi, kalau dipakai dengan cara yang kurang tepat, sebagian kandungan baiknya bisa berkurang.
Untuk menggoreng dalam suhu tinggi dan lama, sebaiknya tetap hati-hati. Meski beberapa studi menunjukkan minyak zaitun cukup stabil, pemakaian berulang tetap bukan kebiasaan yang ideal.
Kalau kamu fokus pada kolesterol, perhatikan juga pola makan secara keseluruhan. Kamu bisa membaca pembahasan Deherba tentang makanan yang membantu meningkatkan kolesterol baik.
Singkatnya, minyak zaitun lebih aman dipakai secukupnya. Gunakan untuk salad, sayuran matang, tumis ringan, atau tambahan makanan setelah proses masak selesai.
Satu hal lagi yang perlu kamu ingat, cahaya dan panas dapat menurunkan kualitas minyak. Simpan minyak zaitun di tempat sejuk, gelap, dan tertutup rapat, ya.
Kalau ingin memahami kenapa jenis virgin sering dianggap istimewa, baca juga ulasan tentang lemak sehat dalam virgin olive oil. Ini membantu kamu memilih jenis minyak zaitun sesuai kebutuhan.
⚠️ Disclaimer: Artikel ini ditulis dari sudut pandang penulis untuk tujuan informasi serta edukasi kesehatan. Isi artikel tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis, saran, maupun tindakan medis profesional dari dokter atau tenaga kesehatan. Setiap keputusan terkait kondisi kesehatan, pengobatan, konsumsi obat, maupun tindakan medis lainnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Kami tidak bertanggung jawab atas segala risiko, kerugian, maupun dampak yang timbul akibat penggunaan informasi dalam artikel ini.
Referensi
- George, E. S., et al. “The effect of high-polyphenol extra virgin olive oil on cardiovascular risk factors: A systematic review and meta-analysis.” Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 2019. Tinjauan sistematis ini membahas hubungan minyak zaitun tinggi polifenol dengan beberapa penanda risiko penyakit jantung.
- Mehmood, A., et al. “A review on management of cardiovascular diseases by olive polyphenols.” Food Science & Nutrition, 2020. Review ini menjelaskan peran polifenol zaitun sebagai senyawa antioksidan dan anti-inflamasi yang berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular.
- Casal, S., et al. “Olive oil stability under deep-frying conditions.” Food and Chemical Toxicology, 2010. Studi ini membantu menjelaskan stabilitas minyak zaitun saat dipanaskan, sekaligus mengingatkan pentingnya cara memasak yang tepat.

