HomeImun & InfeksiHati-Hati Penyakit Menular Mononukleosis Menyebar Melalui Ciuman!

Hati-Hati Penyakit Menular Mononukleosis Menyebar Melalui Ciuman!

Date:

Mononukleosis adalah sejenis penyakit menular. Biasanya disebabkan oleh virus Epstein-Barr, tapi bisa juga disebabkan oleh virus lain. Cara utama penyebarannya adalah melalui air liur, karena itulah sering disebut sebagai penyakit akibat ciuman. Penyakit menular mononukleosis paling sering terjadi pada remaja dan dewasa muda, tetapi siapa pun pada usia berapa pun bisa tertular.

Apa itu penyakit mononukleosis? Bagaimana cara penularan penyakit ini? Seperti apa gejala-gejalanya? Dan bagaimana cara mengobatinya? Simaklah selengkapnya dalam artikel ini.

Apa Itu Penyakit Mononukleosis?

Mononukleosis adalah penyakit menular yang biasanya disebabkan oleh virus Epstein-Barr (disingkat EBV). Kadang disebut sebagai penyakit demam kelenjar atau “penyakit akibat ciuman”. Itu karena banyak orang tertular penyakit ini melalui pertukaran air liur saat berciuman. Selain berciuman, air liur juga bisa bertukar jika memakai alat makan atau minum bersamaan dengan orang lain.

Walaupun sifatnya menular, tapi penyakit ini tidak menular sesering penyakit biasa seperti pilek atau flu. Penyakit demam kelenjar ini juga biasanya tidak serius, meski kadang bisa terjadi komplikasi yang dapat membuatnya lebih berbahaya.

Gejala-gejala dari penyakit menular mononukleosis cukup bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Jika tertular mononukleosis, Anda kemungkinan tidak bisa beraktivitas seperti biasa hingga beberapa minggu.

Bagaimana Cara Penularan Penyakit Mononukleosis?

Menurut penjelasan lembaga kesehatan CDC, penyakit menular mononukleosis terutama disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV). Virus EBV ini paling sering menyebabkan penyakit mononukleosis pada remaja dan orang dewasa muda.

Namun, bahkan setelah gejala-gejala infeksi mononukleosis menghilang, EBV akan tetap ada dalam tenggorokan dan sel darah dalam kondisi tidak aktif, selama masa hidup orang tersebut. Virus dapat aktif kembali secara berkala, namun biasanya tanpa gejala.

Bagaimana cara penularan EBV? EBV menyebar melalui cairan tubuh, biasanya air liur, yang menjadi alasan kenapa Anda bisa tertular melalui ciuman. Anda juga bisa tertular penyakit demam kelenjar apabila berbagi makanan, minuman, atau peralatan makan dengan orang yang sudah lebih dulu terinfeksi. Atau Anda juga bisa tertular dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi, meski ini jarang terjadi.

Jika orang yang terinfeksi penyakit menular mononukleosis menggunakan benda seperti sendok atau garpu, virusnya kemungkinan masih bisa menular selama benda tersebut masih lembap.

EBV juga bisa menyebar melalui darah dan air mani. Meski tidak umum terjadi, Anda juga bisa tertular melalui prosedur medis seperti transfusi darah dan transplantasi organ, atau melalui kontak seksual.

Seperti Apa Gejala-Gejala Penyakit Menular Mononukleosis?

American Academy of Family Physicians menjelaskan bahwa gejala-gejala mononukleosis mirip dengan gejala flu atau pilek biasa. Gejala-gejala penyakit mononukleosis tidak akan muncul hingga 4 – 6 minggu setelah Anda terpapar virus penyebabnya.

Gejala-gejalanya juga mungkin tidak akan muncul secara bersamaan, melainkan secara bertahap. Berikut adalah sejumlah gejala yang mungkin dirasakan:

  • Merasa sangat lelah
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Sakit tenggorokan
  • Nyeri otot
  • Badan lemas
  • Pembengkakan kelenjar di leher dan ketiak
  • Pembengkakan limpa atau hati
  • Hilang selera makan
  • Ruam (bintil-bintil merah) di kulit

Jika penyakit demam kelenjar ini dialami oleh anak-anak, biasanya gejala-gejalanya ringan. Namun pada remaja dan orang dewasa biasanya akan mengalami gejala-gejala yang lebih berat.

Bagaimana Cara Mengobati Penyakit Mononukleosis?

Cleveland Clinic menyebutkan bahwa saat ini masih belum ada obat khusus untuk penyakit menular mononukleosis. Sayangnya, obat antibiotik dan antivirus yang dapat membunuh bakteri atau virus lain tidak sanggup membunuh virus penyebab mononukleosis.

Karena itu, cara mengobati demam kelenjar ini biasanya difokuskan pada membantu penderita untuk merasa lebih baik dengan mengendalikan gejala-gejalanya. Dokter mungkin akan menyarankan pasien untuk:

  • Istirahat: Demam kelenjar membuat Anda merasa sangat lelah, karena itu perbanyaklah istirahat. Tidur yang cukup juga membantu tubuh melawan infeksi.
  • Hidrasi: Minumlah banyak air untuk mencegah dehidrasi.
  • Obat pereda sakit: Obat OAINS (obat anti-inflamasi non steroid) seperti ibuprofen dan naproxen dapat meredakan demam, peradangan, sakit kepala, dan nyeri otot. Obat asetaminofen juga dapat membantu.
  • Pereda sakit tenggorokan: Anda bisa berkumur air garam dan mengisap permen lozenge (pelega tenggorokan).
  • Kurangi aktivitas: Aktivitas fisik bisa membebani limpa yang sedang membengkak, meningkatkan risikonya untuk pecah. Anda harus menghindari olahraga berat saat Anda sakit dan hingga empat minggu sesudahnya.

Berdasarkan informasi dari Mayo Clinic, kebanyakan gejala-gejala demam kelenjar mungkin akan membaik setelah beberapa minggu. Tapi Anda kemungkinan baru akan merasa benar-benar sehat dalam 2 – 3 bulan. Semakin banyak istirahat yang Anda dapatkan, semakin cepat juga pemulihannya. Jangan terlalu cepat kembali beraktivitas normal, karena bisa meningkatkan risiko kambuh.

Untuk membantu meminimalkan risiko pecahnya limpa, dokter mungkin menyarankan Anda untuk menunggu sekitar 1 bulan sebelum kembali melakukan aktivitas berat atau olahraga berat. Pecahnya limpa akan menyebabkan perdarahan hebat dan merupakan kondisi darurat medis.

Jadi pastikan untuk konsultasi dengan dokter Anda kapan waktu yang mana bagi Anda untuk kembali ke aktivitas normal. Dokter Anda mungkin merekomendasikan program latihan bertahap untuk membantu Anda membangun kembali kekuatan seraya Anda pulih.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang penyakit menular mononukleosis. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda dan keluarga. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar kesehatan hanya di Deherba.com.

Cindy Wijaya
Cindy Wijaya
Penulis beragam artikel kesehatan berpengalaman. Senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Saat ini bekerja sebagai penulis dan editor untuk deherba.com. Tinggal di “kota hujan” Bogor sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

Book a 1-on-1
Call Session

Want Patrick's full attention? Nothing compares with a live one on one strategy call! You can express all your concerns and get the best and most straight forward learning experience.

Related articles:

Meniran: Tanaman Liar dengan Potensi Antivirus yang Didukung Riset — Panduan Lengkap

Dalam 3 menit ke depan, kamu akan mengenali satu...

6 Manfaat Minum Air Putih untuk Kesehatan Tubuh — Didukung Penelitian

Manfaat minum air putih jauh lebih besar dari sekadar...

Panduan Praktis Membuat Minyak Gosok Cap Tawon di Rumah

Panduan Lengkap Cara Membuat Minyak Gosok Seperti Cap Tawon...

Mengenal Reishi: Adaptogen Kuat untuk Energi dan Fokus Optimal Tanpa Kecelakaan Kafein

Reishi, jamur fungsional kuno, kini didukung sains modern. Temukan bagaimana adaptogen ini meningkatkan energi stabil, kejernihan kognitif, dan kesejahteraan menyeluruh.

Terkuaknya Hubungan Mikrobiota Usus, Antibiotik, dan Efek Morfin: Sebuah Revolusi dalam Manajemen Nyeri

Penelitian terbaru mengungkap bagaimana mikrobiota usus memengaruhi efek morfin, terutama saat dimodulasi oleh antibiotik. Pahami peran sumbu usus-otak!

Latest courses: