HomeSaraf & OtakFaktor Resiko Migrain, Siapa Saja yang Beresiko?

Faktor Resiko Migrain, Siapa Saja yang Beresiko?

Date:

Siapa saja yang beresiko menderita migrain? Apakah Anda termasuk salah satu diantaranya? Migrain dapat menyerang siapa saja dan kapan saja. Stres, gaya hidup yang buruk (merokok dan konsumsi alkohol), atau alergi, dapat memicu timbulnya migrain. Beberapa orang memang dapat mengurangi resiko terjadinya migrain dengan menghindari berbagai pemicu di atas.

Meski begitu, ada beberapa faktor resiko migrain yang berada di luar kendali Anda yang juga turut berkontribusi pada terjadinya migrain.

Pengetahuan akan faktor-faktor resiko ini dapat mempersenjatai diri Anda untuk mewaspadai resiko terjadinya migrain. Berikut beberapa faktor resiko migrain yang perlu Anda waspadai.

Jenis Kelamin dan Perubahan Hormon

Selama masa anak-anak, pria dan wanita memiliki kecenderungan yang sama terhadap resiko migrain. Namun, memasuki masa puber, resiko wanita terhadap migrain lebih besar dibandingkan pria.

Ini disebabkan oleh adanya fluktuasi hormon estrogen selama masa hidup wanita sejak terjadinya menstruasi dan terus berlangsung selama kehidupannya termasuk dalam masa kehamilan dan menopause.

Beberapa wanita melaporkan bahwa serangan migrain semakin memburuk menjelang menstruasi dan saat trimester pertama kehamilan, dimana fluktuasi hormon estrogen sangat signifikan.

Riwayat Keluarga

Apakah ada anggota keluarga Anda yang menderita migrain? Sekitar tujuh puluh sampai delapan puluh persen penderita migrain ternyata berasal dari keluarga dengan riwayat penderita migrain.

Mengenali riwayat migrain dalam keluarga dapat membantu Anda menyadari resiko migrain dan mempercepat proses diagnosis. Resiko Anda mengidap migrain semakin meningkat apabila salah satu atau kedua orang tua Anda mengidap penyakit ini. Jika Anda mengalaminya, orang tua Anda dapat menjadi sumber anjuran untuk mengatasi migrain.

Faktor Usia

Sebenarnya, migrain dapat menyerang pada usia berapapun. Namun, dilaporkan bahwa migrain paling sering terjadi antara usia 15-55 tahun, yang dipengaruhi juga oleh stres, hormon, dan diet. Statistik menunjukkan bahwa resiko migrain menurun pada pria setelah melewati usia 40 tahun. Sebaliknya, wanita lebih rentan terkena migrain menjelang menopause, yakni di antara usia 45-55 tahun.

Faktor Ras/Etnis

Ras Kaukasia memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap migrain. Karena itu, angka kejadian migrain lebih sering terlihat di Eropa atau Amerika Utara dan Selatan, namun, lebih jarang ditemukan di Afrika maupun Asia.

Selain faktor genetik, penelitan yang dilakukan belum menemukan hubungan antara kondisi lingkungan dan makanan yang dikonsumsi sebagai faktor resiko migrain dalam hal ini.

Jika Anda memiliki satu atau lebih dari faktor resiko migrain di atas, berdiskusilah dengan dokter mengenai langkah-langkah pencegahan yang dapat Anda lakukan. Diskusikan semua pilihan perawatan dan pengobatan yang ada guna mencegah maupun mengendalikan migrain.

Book a 1-on-1
Call Session

Want Patrick's full attention? Nothing compares with a live one on one strategy call! You can express all your concerns and get the best and most straight forward learning experience.

Related articles:

Obesitas Bikin Otak Lemot? Jangan Sepelekan Koneksi Usus-Otakmu

Penelitian terbaru menunjukkan probiotik Clostridium butyricum dapat memperbaiki fungsi kognitif pada individu obesitas dengan memodulasi jalur mikrobiota-usus-otak. Pelajari lebih lanjut!

Terobosan Baru: ‘Indra Neurobiotik’ Ungkap Komunikasi Usus-Otak dan Potensi Atasi Obesitas

Penelitian terbaru memperkenalkan 'indra neurobiotik', menunjukkan mikrob usus memengaruhi fungsi otak secara langsung, membuka jalan baru pengobatan obesitas.

Koneksi Usus-Otak: Bagaimana Probiotik Pediococcus acidilactici Membantu Mengatasi Stres Kronis

Pelajari bagaimana Pediococcus acidilactici, probiotik spesifik, berpotensi membantu mengelola stres kronis dengan memodulasi koneksi usus-otak yang kuat.

Sulit Fokus Kerja? Tingkatkan Konsentrasimu dengan Herbal Pilihan Ini!

Semakin ke sini semakin banyak orang merasa sulit untuk...

Adakah Cara Menyembuhkan Saraf Kejepit di Leher?

Saraf kejepit di leher bisa sangat membatasi aktivitas. Anda...

Latest courses: