Stres kronis terasa bukan cuma di kepala, tapi juga di perut: kembung, mules, atau nafsu makan yang kacau. Hubungan ini disebut koneksi usus-otak. Salah satu bakteri yang kini banyak diteliti untuk jalur ini adalah Pediococcus acidilactici, probiotik dari makanan fermentasi.
📌 Poin Utama:
- Stres kronis memengaruhi usus lewat saraf, hormon, dan sistem imun.
- Pediococcus acidilactici berpotensi meredakan gejala stres pada studi hewan dan uji awal pada manusia.
- Efek probiotik tergantung strain, jadi tidak semua produk sama.
- Probiotik dan herbal sifatnya pendukung, bukan pengganti terapi dari dokter.
Stres Kronis dan Perut: Dua Hal yang Sering Dianggap Terpisah
Ingat momen sebelum presentasi besar? Banyak orang merasakan perutmu bereaksi lebih dulu: mules, mual, atau bolak-balik ke belakang.
Tapi keluhan itu jarang kamu kaitkan dengan stres. Kesehatan mental dan pencernaan selama ini dianggap dua urusan yang terpisah. Dokter spesialisnya saja beda, kan?
Padahal riset menunjukkan keduanya satu sistem. Stres berkepanjangan mengubah cara usus bekerja, lalu usus yang tidak nyaman mengirim sinyal yang memperberat suasana hati.
Kenapa Usus Disebut “Otak Kedua”?
Di dinding ususmu ada jutaan sel saraf. Kumpulan sel ini disebut sistem saraf enterik, jaringan saraf khusus yang mengatur pencernaan.

Jaringan ini tidak berpikir seperti otak. Tapi ia punya jalur langsung ke kepala lewat saraf vagus, saraf utama penghubung organ tubuh dengan otak.
Ada juga jalur hormon. Saat stres, otak memerintahkan kelenjar adrenal mengeluarkan kortisol, hormon yang ikut mengubah gerakan usus dan bakteri di dalamnya.
Sebaliknya, bakteri usus menghasilkan zat yang memengaruhi otak. Termasuk serotonin, zat kimia pembawa sinyal yang mengatur suasana hati. Sebagian besar serotonin tubuh justru dibuat di usus.
Kumpulan bakteri di usus itu disebut mikrobioma. Tinjauan Cryan dan kolega di jurnal Physiological Reviews menyebutnya seperti pengatur lalu lintas.
Mikrobioma ikut menentukan seberapa kuat respons tubuhmu terhadap stres. Koneksi ini juga memengaruhi nafsu makan dan berat badan.
Kami pernah membahasnya di artikel soal koneksi usus-otak dan obesitas. Nah, dari sekian banyak bakteri di usus, mana yang paling diteliti untuk stres?
Pediococcus acidilactici: Apa Kata Riset soal Stres?
Pediococcus acidilactici adalah bakteri asam laktat. Kelompok bakteri ini biasa dipakai untuk fermentasi makanan, jadi bukan pendatang baru bagi tubuh manusia.
Yang baru adalah perhatian ilmiah padanya untuk suasana hati. Studi yang paling sering dirujuk datang dari Tian dan timnya di jurnal Food & Function tahun 2021.
Mereka menguji strain CCFM6432 pada tikus yang stresnya dibuat kronis. Perilaku mirip kecemasan berkurang, dan aktivitas sumbu HPA, jalur hormon stres yang mengatur respons tubuh saat tertekan, ikut diredam.
Susunan bakteri di usus hewan percobaan juga membaik. Tapi hasil pada hewan tidak otomatis berlaku pada manusia.
Langkah berikutnya sudah masuk uji klinis. Pada 2024, jurnal Microbiome Research Reports melaporkan evaluasi strain yang sama sebagai terapi tambahan untuk pasien depresi. Hasilnya menjanjikan, dan riset masih terus berjalan.
Satu Probiotik Tidak Sama dengan yang Lain
Kabar baiknya, bukti pada manusia mulai terkumpul. Meta-analisis Zhang dan kolega di jurnal Brain and Behavior tahun 2020 menggabungkan sejumlah uji acak terkontrol pada orang sehat.
Kesimpulannya, minum probiotik menurunkan stres yang dirasakan secara nyata. Efeknya memang kecil, tapi jangan harap jadi langsung tenang dalam semalam, deh.
Meta-analisis lain di BMC Psychology tahun 2026 melihat 12 uji acak dengan 3.350 pekerja dewasa sehat. Gejala stres, cemas, dan depresi ringan turun sedikit, walau hasil antar studi cukup bervariasi.
Penyebab variasinya satu: strain yang dipakai berbeda-beda. Efek psikologis melekat pada strain tertentu, bukan pada semua bakteri baik.
Kalau kamu ingin mencoba untuk stres, cari produk yang mencantumkan nama strainnya jelas, misalnya Pediococcus acidilactici CCFM6432. Pelajari studi di balik strain itu sebelum membeli.
Makanan fermentasi seperti yogurt atau tempe tetap pilihan harian yang masuk akal. Kalau probiotik bicara soal bakteri, bagaimana dukungan dari dunia tanaman?
Pendamping Herbal untuk Usus dan Pikiran
Kunyit dan temulawak sudah lama dipakai dalam jamu agar perut nyaman setelah makan. Pegagan, atau Centella asiatica, secara tradisional dipakai untuk membantu pikiran lebih tenang.
Kami pernah membahas pegagan di artikel soal cara mengatasi stres dengan pegagan. Ada juga mengkudu, buah yang secara tradisional dipakai menjaga daya tahan tubuh dan melancarkan pencernaan.
Rempah dan herbal lain untuk perut bisa kamu lihat di artikel kami soal herbal untuk pencernaan.
Tapi harus jujur: dukungan herbal untuk jalur usus-otak masih berbasis tradisi. Riset ilmiahnya belum sedalam probiotik, jadi perlakukan herbal sebagai pendamping, bukan jawaban tunggal untuk stres yang berat.
Tanya Jawab Seputar Probiotik dan Stres Kronis
Apakah semua probiotik bisa membantu mengatasi stres?
Tidak juga, sih. Efeknya strain-spesifik, artinya hanya strain tertentu yang punya bukti ilmiah. Bakteri yang bagus untuk pencernaan belum tentu berpengaruh pada stres.
Berapa lama perlu minum probiotik sampai terasa di tubuhmu?
Studi umumnya berjalan beberapa minggu sampai bulan, dan efeknya tidak instan. Konsistensi lebih penting daripada dosis besar.
Boleh diminum bersamaan dengan obat dari dokter?
Diskusikan dulu dengan dokter yang menanganimu. Probiotik bisa jadi pendamping, tapi bukan pengganti terapi medis.
Kapan Perlu Periksa?
Probiotik dan herbal bekerja di area pendukung. Kalau stres sudah di luar kendali, ada tanda yang butuh bantuan profesional.
Segera periksa ke dokter atau psikolog kalau stres tidak reda lebih dari dua minggu. Apalagi kalau tidur dan nafsu makan terganggu parah.
Waspadai juga saat kamu kehilangan minat pada hal yang dulu menyenangkan, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Gangguan cemas dan depresi butuh penanganan tenaga kesehatan.
Poin Penting Seputar Koneksi Usus-Otak dan Stres Kronis
Usus dan otak saling berbicara lewat saraf, hormon, dan bakteri. Sekarang kamu tahu: menjaga usus berarti ikut menjaga cara tubuhmu menghadapi stres.
Pediococcus acidilactici punya arah riset yang jelas untuk stres kronis, dari studi hewan sampai uji klinis awal. Efeknya bertahap dan tidak menggantikan terapi medis.
Untuk dukungan harian, padukan makanan fermentasi, herbal tradisional, tidur cukup, dan gerak tubuh. Kalau kamu mencari herbal untuk menjaga pencernaan dan daya tahan, mengkudu punya sejarah panjang dalam ramuan tradisional Indonesia. Tanaman ini layak jadi pilihan pendamping.
Referensi
- Cryan JF, et al. “The Microbiota-Gut-Brain Axis.” Physiological Reviews, 2019. Tinjauan komprehensif yang memetakan jalur komunikasi dua arah antara mikrobioma usus dan otak, termasuk perannya dalam respons stres.
- Tian P, et al. “Pediococcus acidilactici CCFM6432 mitigates chronic stress-induced anxiety and gut microbial abnormalities.” Food & Function, 2021. Studi hewan yang menunjukkan strain ini mengurangi perilaku mirip kecemasan dan meredam aktivitas berlebih sumbu HPA pada stres kronis.
- “Evaluation of the clinical efficacy of Pediococcus acidilactici CCFM6432 in alleviating depression.” Microbiome Research Reports, 2024. Uji klinis awal yang mengevaluasi strain yang sama sebagai terapi tambahan pada pasien depresi.
- Zhang N, et al. “Efficacy of probiotics on stress in healthy volunteers: a systematic review and meta-analysis based on randomized controlled trials.” Brain and Behavior, 2020. Meta-analisis uji acak terkontrol yang menunjukkan probiotik menurunkan stres subjektif pada orang sehat.
- “Probiotic intake and mental health in healthy working adults: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials.” BMC Psychology, 2026. Analisis 12 uji acak pada 3.350 pekerja dewasa; efek positif kecil tapi signifikan pada gejala stres, cemas, dan depresi ringan.
⚠️ Disclaimer: Artikel ini ditulis dari sudut pandang penulis untuk tujuan informasi serta edukasi kesehatan. Isi artikel tidak dimaksudkan sebagai pengganti diagnosis, saran, maupun tindakan medis profesional dari dokter atau tenaga kesehatan. Setiap keputusan terkait kondisi kesehatan, pengobatan, konsumsi obat, maupun tindakan medis lainnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Kami tidak bertanggung jawab atas segala risiko, kerugian, maupun dampak yang timbul akibat penggunaan informasi dalam artikel ini.

