Keputihan pada Remaja Putri: Sebuah Tinjauan
Estimated reading time: 10 minutes
- Keputihan adalah masalah umum yang dihadapi oleh remaja putri di Indonesia.
- Penyebab utama keputihan meliputi kebersihan pribadi yang buruk dan pengetahuan yang terbatas.
- Penting untuk mendapatkan edukasi yang tepat untuk pencegahan keputihan.
- Jamu dan herbal memiliki keterbatasan dalam bukti ilmiah dan tidak dapat menggantikan terapi medis.
- Segera konsultasikan ke dokter jika mengalami perubahan pada keputihan.
Daftar Isi
- Definisi Keputihan: Antara Normal & Patologis
- Prevalensi Keputihan pada Remaja di Indonesia
- Penyebab Keputihan: Perspektif Ilmiah & Tradisional
- Pencegahan Keputihan: Fokus pada Edukasi dan Perilaku
- Perkembangan Terkini Pencegahan Keputihan
- Keterbatasan dan Transparansi Penggunaan Herbal/Jamu
- Panduan Praktis Mencegah Keputihan untuk Remaja & Keluarga
- Kapan Harus Waspada & Konsultasi Medis?
- Kesimpulan
- Referensi Ilmiah & Kelembagaan
Definisi Keputihan: Antara Normal & Patologis
Keputihan didefinisikan sebagai cairan/kotoran yang keluar dari alat kelamin perempuan selain darah haid. Pada remaja putri, keputihan umumnya fisiologis, muncul akibat kematangan organ reproduksi selama pubertas. Namun, jika dibarengi perubahan warna, bau, atau rasa gatal, maka dipertimbangkan patologis (penyebab infeksi, perilaku hygiene kurang, atau faktor lain).
Prevalensi Keputihan pada Remaja di Indonesia: Angka yang Mengkhawatirkan
- Studi literature review melaporkan kejadian keputihan pada remaja usia 13-19 tahun: 56,6% mengalami ringan sebulan sekali, 47,3% hingga 97%, 73,5% fisiologis, 70% tidak normal, dan 66,2% mengalami dengan gejala tertentu. [1]
- Pada skala nasional, SKRI 2022 mencatat 75% perempuan pernah mengalami keputihan sekali seumur hidup dan 45% lebih dari dua kali. [2]
- Prevalensi di negara tropis seperti Indonesia mencapai hingga 90% pada wanita, terutama kelompok remaja akibat faktor kebersihan. [3]
- Di Jawa Timur (usia 10-14 tahun), 27,60% remaja putri mengalami keputihan. Survei Januari 2025 di SMP Saqo Kraksaan menemukan 9 dari 39 remaja pernah mengalami keputihan.
- Studi cross-sectional pada 231 remaja putri menemukan 76,5% mengalami fluor albus. [4]
Data di atas menegaskan bahwa keputihan adalah permasalahan dengan prevalensi tinggi dan membutuhkan edukasi serta intervensi berkelanjutan.
Penyebab Keputihan: Perspektif Ilmiah & Tradisional
1. Perspektif Ilmiah (Modern Evidence)
Berdasarkan temuan banyak penelitian Indonesia:
- Personal Hygiene Kurang: Studi cross-sectional di SMP Saqo Kraksaan usia 13-15 tahun (n=39) menunjukkan perilaku personal hygiene baik/cukup berkorelasi dengan rendahnya keputihan (p=0,001); 59% remaja dengan hygiene baik tidak mengalami keputihan, sedangkan 41% dengan hygiene buruk mengalaminya. [2]
- Keterbatasan Pengetahuan: Studi pada 231 remaja menemukan 63,6% kebiasaan higienitas kurang, secara signifikan berasosiasi dengan fluor albus (p=0,002).[4]
- Faktor Sosial & Lingkungan: Sikap terhadap perawatan organ reproduksi, lingkungan yang tidak mendukung edukasi kesehatan, serta pengetahuan minim menjadi pemicu utama.
Dua studi bahkan menyimpulkan pengetahuan saja belum cukup tanpa perubahan sikap dan perilaku; penggunaan pantyliner sendiri bukan faktor signifikan penyebab keputihan. [1]
Penelitian lain di RSUD UGM dan IPB juga membenarkan pentingnya intervensi edukasi dan promosi perilaku resiko rendah untuk menekan insiden keputihan pada remaja. (Referensi: Studi-studi peer-reviewed di Portal Garuda, Jurnal Universitas Gadjah Mada, UGM Repository)
“Penting bagi remaja dan keluarga untuk mengubah perilaku dan kebiasaan sehari-hari demi menjaga kesehatan organ reproduksi dan mencegah infeksi.”
Dr. Suparyanto, M.Kes – UMS, dikutip via Jurnal Ilmu Kesehatan Mandiri Cendikia [2]
2. Pengetahuan Tradisional: Jamu dan Kearifan Lokal
Sebagai bagian budaya Nusantara, jamu dikenal secara turun-temurun dalam perawatan kewanitaan — menggunakan rempah seperti kunyit, daun sirih, dan temu giring. Menurut pengetahuan tradisi Jawa yang didokumentasikan dalam “Serat Centhini” dan sumber-sumber BPOM, ramuan daun sirih berkhasiat antiseptik dan sering digunakan membilas area kewanitaan untuk menjaga kebersihan dan mengurangi bau.
Sejak zaman nenek moyang, perempuan Indonesia telah mempraktikkan bersih diri dengan bahan alam:
- Air rebusan daun sirih: digunakan untuk membilas kewanitaan secara eksternal.
- Kunyit asam: diminum untuk menjaga kesehatan reproduksi.
Namun, keterbatasan bukti ilmiah terkait penggunaan jamu untuk pencegahan atau pengobatan keputihan pada remaja putri di Indonesia patut dicatat. Belum ditemukan studi terpublikasi di jurnal nasional/portal riset yang menguji efektivitas jamu atau herbal tradisional secara klinis pada kelompok ini. [1] [2]
Catatan BPOM: Seluruh obat tradisional/jamu yang diedarkan di Indonesia harus mendapat ijin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta tidak boleh diklaim menyembuhkan penyakit tertentu tanpa bukti uji klinis [BPOM].
Pencegahan Keputihan: Fokus pada Edukasi dan Perilaku
Berdasarkan tinjauan pustaka artikel 2019-2024 (10 artikel) dan kebijakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pencegahan utama adalah edukasi perilaku hygiene non-farmakologis.
Tenaga kesehatan dan keluarga memegang kunci sukses pencegahan keputihan lewat:
- Edukasi pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di sekolah dan keluarga
- Pemberdayaan remaja untuk memahami risiko dan cara merawat organ reproduksi
- Pelibatan tenaga kesehatan (bidan, kader, dokter puskesmas) dalam promosi dan sosialisasi
- Kampanye sanitasi lingkungan dan ketersediaan air bersih [5]
“Edukasi khusus tentang hygiene area kewanitaan kepada remaja harus diberikan secara kontinyu agar mereka paham pentingnya membersihkan area genitalia dengan benar dan mencegah keputihan patologis.”
Surya, S.Kep., Ns – Reviewer Artikel Jurnal Mandiri Cendikia [2]
Perkembangan Terkini Pencegahan Keputihan
Studi terbaru menganalisis hubungan pengetahuan dan motivasi diri terhadap pencegahan keputihan pada remaja SMP. Hasilnya, meningkatnya pengetahuan dan motivasi diri berbanding lurus dengan membaiknya perilaku pencegahan.[6] Oleh karenanya, sekolah dan tenaga kesehatan disarankan melakukan
edukasi aktif secara rutin berkaitan personal hygiene perempuan.
Keterbatasan dan Transparansi Penggunaan Herbal/Jamu
Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah dari studi peer-reviewed yang membahas secara spesifik khasiat jamu atau herbal untuk pencegahan ataupun pengobatan keputihan pada remaja putri di Indonesia. Sebagian penelitian lebih memfokuskan pada cara edukasi hygiene, bukan terapi herbal.
Oleh karena itu, penting bagi pengguna jamu atau herbal tradisional untuk tetap mengutamakan saran medis profesional dan menggunakan produk yang telah terdaftar BPOM.[1]
“Masyarakat diingatkan bijak memanfaatkan jamu/ramuan tradisional sebagai pelengkap bukan pengganti upaya medis, dan memastikan semua produk yang digunakan sudah punya izin edar BPOM.”
Dr. Lucia Maria S. – Peneliti Fitofarmaka, UGM
Panduan Praktis Mencegah Keputihan untuk Remaja & Keluarga
- Jaga kebersihan area kewanitaan minimal 2x sehari dengan air bersih
- Gunakan pakaian dalam berbahan katun, ganti 2x sehari
- Jangan menggunakan sabun atau cairan pembersih kewanitaan berpewangi secara berlebihan
- Hindari berbagi handuk atau pakaian dalam
- Konsultasi dengan petugas kesehatan jika keputihan berubah warna, bau, atau menimbulkan gatal/nyeri
- Jika memilih jamu/herbal sebagai pelengkap: pilih yang telah terdaftar BPOM dan tidak menggantikan pengobatan medis bila keputihan bersifat patologis
WHO juga menegaskan dalam Traditional Medicine Strategy bahwa penggunaan herbal atau pengobatan tradisional perlu berbasis evidence dan tidak mengabaikan standar medis [WHO 2014].
Kapan Harus Waspada & Konsultasi Medis?
- Keputihan berwarna kuning, hijau, keabu-abuan
- Bau menyengat, amis atau busuk
- Timbul gatal, nyeri, panas, atau kemerahan
- Keputihan berlangsung terus-menerus
Segera konsultasikan ke dokter, puskesmas, atau bidan terdekat.
Kesimpulan
- Keputihan pada remaja putri umum terjadi, mayoritas fisiologis akibat pubertas.
- Penyebab utama: personal hygiene buruk, pengetahuan terbatas, perilaku berisiko, dan lingkungan tidak mendukung.
- Edukasi, perubahan perilaku, serta kebiasaan hidup bersih dan sehat adalah kunci pencegahan.
- Belum cukup bukti klinis penggunaan jamu untuk keputihan remaja. Herbal/jamu hanya sebagai pelengkap, bukan pengganti terapi medis jika keputihan patologis.
- Penting: selalu konsultasikan keluhan ke tenaga kesehatan dan gunakan jamu yang telah mendapat izin BPOM.
- Artikel ini hanya untuk informasi, bukan pengganti saran medis profesional.
Referensi Ilmiah & Kelembagaan
- Keputihan pada Remaja Putri: Tinjauan Literature Review
- Personal Hygiene dan Keputihan Remaja
- Prevalensi Keputihan Indonesia
- Personal Hygiene dan Fluor Albus
- Pencegahan Keputihan Remaja
- Studi Pengetahuan, Motivasi, dan Keputihan Remaja
- Regulasi Obat Tradisional BPOM
- WHO Traditional Medicine Strategy
Transparansi, Keterbatasan, dan Medical Disclaimer
Penting! Artikel ini disusun berdasarkan studi peer-reviewed, data resmi BPOM, Kemenkes RI, dan literatur yang diuji kredibilitasnya.
Belum ada hasil uji klinis/penelitian spesifik terkait penggunaan jamu untuk keputihan remaja putri di Indonesia.
Artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi edukatif, bukan pengganti konsultasi medis atau pengobatan oleh dokter. Jika mengalami keluhan berulang, segera periksa ke fasilitas kesehatan.
Terakhir diperbarui: 8 Juni 2024
Tentang Penulis
Penulis: Rahmawati, S.Kom
Praktisi pengembangan produk herbal (10+ tahun) di UMKM Jamu, konsultan literasi kesehatan tradisional, dan kontributor tetap versibaru.deherba.com. Aktif dalam advokasi keamanan penggunaan jamu berbasis riset dan regulasi BPOM.
Disclosure: Artikel ini tidak terafiliasi dengan produk herbal merek tertentu dan tidak mengandung promosi produk. Seluruh referensi bersifat obyektif dan berbasis bukti ilmiah.

